Hasrat Suamiku Dengan Gundiknya
Mulut mamanya Panji sangat lentur sekali memaki.
"Duh, kok bisa ya, perusahaan kecil punyaku kalah sama punya konglomerat. Ups! Lupa, yang konglomerat 'kan calon mertuanya. Bukan perusahaannya. Jadi, jangan sedih ya kalau aku menangin tender milyaran ini. Semoga harimu menyenangkan, ayo bangkit dari kekalahan. Jangan semangat, dan teruslah berputus asa. Dadaaah!" Aku melambaikan tangan pada dua wanita yang langsung berdecak semakin kesal itu. Sengaja kalimat terakhir aku belokan sebagai lucu-lucuan aja.
Kaca mata hitam aku pakai. Kebetulan angin lagi berhembus. Rambutku yang tergerai sontak melambai-lambai diterpa angin, memberi kesan keren seperti drama-drama yang ada di TV.
Hot Chapters