180 Hari Menuju Akad
"Suster, Suster, tunggu!"
Aku mendengar suara papaku, namun kesedihan ini membuatku enggan untuk membalikkan wajahku untuk menatap ke sumber suara. Aku seperti patang yang tidak memiliki nyawa, bahkan aku seperti mayat hidup dimana hidup segan mati tidak mau.
"Iya, Tuan," balas sang suster sembari menghentikan jalan kursi rodanya.
"Suster, ini adalah putri saya, biar saya saja yang membawa putri saya pulang," ucap papaku yang terdengar sangat ramah dan sopan sekali.
Bab Populer