Simpanan Ayah Mertua
tutur Rendi, menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
Tangan Naya yang tengah mencekik Tio, melemah. Tatapannya nanar, dengan air mata yang membasahi pipinya. “Aku ingin dia pergi, Mas. Menemui ibuku untuk meminta maaf. Untuk menyampaikan kepada ibu, kalau aku kangen, Mas. Aku kangen sama ibu,” lirihnya. Bersimpuh di depan Tio yang susah payah mengambil udara untuk mengisi paru-parunya.
“Aku kangen ibu, Yah.” Naya meraih tangan Tio yang terborgol. “Bunuh aku, Yah. Aku mohon ….”