MENIKAH DENGAN GUS TAMPAN
Lalu, dengan suara yang lebih lembut, ia berkata, "Umi, Allah saja Maha Pemaaf. Siapa tahu Paman mau bertaubat? Aku hanya ingin memastikan itu."
Khadijah menggeleng keras. "Tidak! Umi tidak setuju!" suaranya terdengar tegas, hampir seperti perintah. "Benar kalau Allah Maha Pemaaf dan kita harus memaafkan, tapi itu bukan berarti kamu harus menemuinya! Umi takut trauma kamu kambuh, Nak... Umi nggak mau itu terjadi."
Zaina mengepalkan tangannya di atas meja, ingin membalas ucapan mertuanya. "Tapi, Umi—"