Istriku, Kekasih Abangku
Ada tumpukan bahan makanan mentah dan tumpukan aneka jajanan seperti jelly, cokelat, dan permen.
Melihat arah pandang suaminya yang tidak mau membuka suara lebih dulu itu, membuat Ana sangat bersemangat untuk selalu mulai mengoceh. “Ah, itu jajananku. Kamu bayar untuk keperluan dapur saja, yang itu biar aku sendiri yang baya …,” ucapannya menggantung karena suaminya bergegas pergi menuju kasir, “r,” sambungnya sedikit menekankan suara. Matanya menyipit ke arah suaminya itu dengan wajah geram. “Tidak boleh melawan, tetapi dianya seperti itu. Dia beruntung karena status pernikahan,” gerutunya pelan.
Hot Chapters