Perjanjian Gaib Untuk Kekayaan
“Api ini bukan untuk membakar, melainkan mengikat kehangatan. Kau letakkan tanganmu di atas api, cukup dekat untuk merasa, tidak sampai terbakar.”
Aku lakukan. Kulit perih halus, pori-pori membuka. Tanda di dadaku hangat—bukan panas, bukan dingin—hangat yang nyata. Angin berembus, tapi tidak mengusik nyala.
Saat itulah, dari jalan besar, terdengar riuh orang berlari. Pekik. Teriak. Kami menoleh. Di ujung gang, asap hitam naik, bukan dari kebakaran rumah—dari tanah! Orang-orang mundur, bingung. Asap itu melayang, seperti kolom air yang dibalik.
Hot Chapters