JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU
Aku berkacang pinggang seolah mengulur waktu menilai penampilannya yang tak kalah kumal, seperti bocah yang habis kecebur got, rambutnya mulai gondrong, awut-awutan, tubuhnya ramping kurang berisi.
“Abang bau,” keluhku menunjuk rambutnya. Bang Hasim mengikuti telunjukku dengan ekor matanya, ia menggeleng lalu duduk seolah aku salah cium.
“Memang enggak keramas semenjak sakit, tadi saja bela-belain kerja lagi di penggiling. Capek. Pegel semua badan Abang.” Ia beralih memukul pundakknya dengan erangan panjang.