Pernah ngebayangin gimana rasanya hidup di usia 20-an yang penuh ketidakpastian? 'Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa' itu kayak temen curhat yang ngerti banget perasaan itu. Novel ini ngikutin perjalanan Alif—mahasiswa semester akhir yang kebingungan antara tuntutan keluarga, ekspektasi sosial, dan mimpi-mimpinya sendiri yang masih abstrak. Yang bikin relate, Alif bukan karakter super heroik; dia sering overthinking, terjebak dalam hubungan toxic, dan kadang bikin keputusan bodoh.
Plotnya nggak linear, justru itu yang bikin menarik. Ada adegan-adegan random kayak ketika Alif ngobrol sama tukang bakso jam 2 pagi tentang filosofi hidup, atau saat dia nulis surat untuk versi dirinya 10 tahun kemudian. Endingnya pun nggak klise—nggak ada 'happily ever after' instan, tapi lebih ke penerimaan diri bahwa proses pencarian jati diri itu sendiri adalah pencapaian.