Candu Dekapan Kakak Ipar
Radja masuk dengan setelan jas mahal berwarna gelap, rapi dan berwibawa, seperti biasa—namun pagi ini wajahnya tampak lebih serius.
“Mas sudah mau berangkat kerja?” tanya Djiwa pelan, menurunkan ponselnya.
Radja mengangguk, lalu duduk di sisi ranjang. “Iya, sayang. Hari ini ada rapat penting dengan kolega dari Rusia.”
Ia menggenggam tangan Djiwa erat. “Maaf, ya. Bukan saya tidak peduli dengan kamu yang sedang berduka. Tapi rapat ini tidak bisa saya tinggalkan.”