Terjebak Cinta Kakak Tiri
Ia memeluk Jasmin dari belakang, tangannya menggenggam tangan Jasmin yang memegang mouse.
“Kamu lupa,” bisiknya, “kalau kamu nulis bukan buat mereka. Kamu nulis karena kamu punya hal yang nggak bisa diem di dalam dada.”
Jasmin menutup mata, meresapi tiap kata. “Tapi gimana kalau apa yang aku tulis nanti nggak diterima? Nggak disukai?”
Reyan mencium pelipisnya lembut. “Kalau kamu mulai nulis buat disukai, kamu bakal kehilangan jujurmu. Dan kamu tahu kan, bagian terbaik dari tulisanmu adalah jujurnya.”