Kafan Hitam
sambung Kiai Mukhsin, “apa kamu bersedia, Sep?”
Asep meneguk saliva beberapa kali. Dahinya mendadak disesaki bulir keringat. Tidak mungkin juga ia menolak permintaan Kiai Mukhsin. Ia pasti langsung akan dicap sebagai orang tak tahu diri.
“Bagaimana, Sep?” Kiai Mukhsin bertanya.
“Sa-saya bersedia, Kiai,” jawab Asep akhirnya.
“Tujuan kita adalah Cimayit,” kata Kiai Mukhsin, “saya memang belum pernah datang ke tempat itu, tapi untungnya saya menemukan rute ke tempat itu dari barang peninggalan alamarhum Kiai Rohmat.”
Hot Chapters