Rasaku Ditelanjangi
Hanya keikhlasan yang kami paksa ada, di antara cinta yang tak seharusnya tumbuh namun telah menjalar begitu dalam.
Kami membereskan barang dalam diam. Aku memakai kembali kaos dan jeans kami.
Sebelum membuka pintu keluar, Arga melapangkan tangannya.
Isyarat untuk sebuah pelukan.
Tubuhku bergerak sendiri ke arahnya.
“Checkout sekarang?” tanyaku.
“Ya, nanti makin berat kalau kelamaan,” jawabnya sambil menutup koper kecil.
Kami berjalan berdampingan keluar dari kamar, menekan tombol lift, dan turun ke lobby hotel.