Kinari dan Benang Waktu
Mereka menamai simpul terdekat—tidak lantang, tidak puitik, melainkan setepat doa yang tahu siapa yang ia panggil.
“Thalúram—Sumpah Air Tua,” ucap Kinari.
Seketika, di bawah mereka muncul pijakan yang bukan batu, bukan kayu: anyaman tipis dari huruf-huruf Aumeta Kuno, menyilang seperti jala.
Ia tidak bergerak; ia mengakui.
Kaki Kinari menemukan legitimasi untuk berdiri.
Kael menyusul, menjejak simpul kedua dengan lirih: “Xhae—yang Menertawakan Kematian.” Anyaman kedua menyambung, menjulur ke simpul ketiga.
Hot Chapters