Di beberapa cerita rakyat Jawa, konsep 'kemat kedua' memang muncul sebagai simbol transisi spiritual. Aku ingat dulu nenek suka bercerita tentang roh yang terjebak di antara dunia karena belum menyelesaikan tugas hidupnya—mirip 'kupatan' atau ritual pelepasan setelah 40 hari kematian. Tapi ini bukan doktrin resmi kejawen, melainkan lebih seperti folklor yang dipengaruhi Hindu-Buddha. Serial 'Misteri Gunung Merapi' di TVRI tahun 90an pernah menyinggung ide serupa lewat adegan arwah penasaran.
Yang menarik, justru dalam wayang kulit konsep ini lebih kompleks. Tokoh seperti Bambang Sumantri dalam 'Arjuna Wiwaha' digambarkan mengalami 'kematian' simbolis sebelum mencapai pencerahan. Ini mungkin metafora tentang pembaruan diri. Aku sering diskusi dengan dalang muda di Solo yang bilang: 'Kematian fisik di Jawa itu cuma pintu, tapi matinya nafsu itu lebih penting'—konsep mirip 'fana' dalam tasawuf.