Ada sesuatu yang sangat puitis sekaligus pedih tentang lirik 'datang saat butuh pergi saat senang' yang sering muncul dalam lagu-lagu pop atau indie. Bagi aku, ini seperti potret hubungan yang tidak seimbang—di mana satu pihak hanya hadir sebagai pelarian ketika sedang rapuh, lalu menghilang begitu kebahagiaan kembali. Mirip karakter figuran dalam cerita hidup orang lain. Aku pernah mengalami ini saat teman dekat tiba-tiba absen setelah masalahku selesai, persis seperti plot sampingan dalam drama 'Your Lie in April'.
Tapi di sisi lain, lirik ini juga bisa dibaca sebagai kritik sosial. Di era media sosial sekarang, banyak orang bersikap transaksional—datang dengan segudang nasihat saat kita down, tapi tak ada kabar ketika kita mulai cerah. Seperti NPC dalam game yang hanya muncul di quest tertentu!