TEMAN WANITA AYAHKU
Bintu Hasankunci ternyata belum siap akutuhan tolong aku ku tak dapat menahan rasa di dadakumengapa belum siap aku kehilangan dirimukarena kamu aku rela menunggu
“Ingat ini baik-baik, May. Diam itu bukan berarti kalah. Kadang justru yang diam itu yang sedang mengarahkan semuanya. Kita bukan pion, kita pemain, dan dunia ini papan caturnya.”
“Jadi, selama ini Bunda tahu? Tapi kenapa diam? Kenapa masih bertahan?”
Bunda tersenyum tipis. Matanya tajam, tak berkedip.
“Pergi? Supaya mereka merasa menang? Supaya mereka pikir Bunda dikalahkan?” Tangannya merapikan rambutku dengan lembut, tapi ada kekuatan dingin di balik sentuhan itu.