Hati Yang Terpilih
Renata tertawa kecil.
Nazwa tertegun menyimak perkataan Renata sebelum akhirnya ikut tertawa. “Hahaha . . . Iya. Kamu benar, kita berdua perempuan yang aneh!” Nazwa menyetujui pikiran Renata.
“Senang berbicara denganmu, Naz,” Ucap Renata setelah letih tertawa.
“Senang juga berbicara denganmu, Renata,” Balas Nazwa.
“Aku sangat mengerti sekarang, apa yang membuat Rafi, Kafka atau mungkin laki-laki yang lain tergila-gila denganmu,” lontar Renata.