Bias Cinta
“Kenapa harus ada kata kerja!”
“Biar kamu ingat dengan kewajibanmu,” balas Cinta cepat sambil melangkah menuju meja rias. Melihat pantulan wajahnya yang tampak memerah dan bibir yang agak bengkak, “nggak mikirin nafkah batin mulu, tapi nafkah lahir juga.”
“Aku sudah penuhi dua-duanya, jadi kamu nggak bisa protes.”
“Siapa yang protes,” ujar Cinta sambil memoles bibirnya dengan lip balm, “aku cuma ngingetin. Waktunya kerja, ya, kerja. Kalau waktunya gitu, ya, gitu.”