Kematian Palsu Adikku
Sarina Raishacerpen suamiku dinginfoto orang menangiskangen ayah yang sudah meninggalkering sudah air mataku
Ayah mendengus dingin,
“Lebih baik dia nggak kembali lagi selamanya, lebih baik mati di luar sana. Melihatnya saja aku sudah muak!”
Mendengar mereka bergantian mencaci-maki, dadaku terasa seperti ditimpa oleh batu besar, sesak dan sakit.
Padahal hari itu aku sempat mengirim pesan pertolongan pada mereka, tetapi mereka tak peduli.
Mungkin, kematianku adalah bentuk pembebasan bagi mereka.
Bahkan andai aku tidak dibunuh dengan kejam, hidupku juga tidak akan lama lagi.
Satu tahun lalu, ketika aku pingsan, dokter menemukan bahwa aku mengidap tumor otak.
人気のチャプター