Wiro sang Penakluk
Rasa asin tipis dari keringat sisa bercampur dengan manisnya air hangat, menciptakan rasa yang unik di lidahnya.
Meilin menghela napas panjang, kepalanya terdongak sedikit menyambut air yang mengguyur wajahnya—tetesan hangat menyentuh kelopak mata, pipi, bibir, seperti ciuman dari langit yang tak pernah berhenti. Dia memutar kepala, mencari bibir Wiro untuk ciuman di bawah pancuran—air menetes di antara bibir mereka, membuat ciuman terasa lebih licin, lebih dalam, lidah saling menyapa dengan rasa hangat yang bercampur uap.