My Favorit Servant
Menatap ke arah halaman, di sana sepeda merah maron yang tadi di pakai dua gadis itu tengah terparkir santai.
Alrix mematikan mesin mobil, lalu beranjak keluar. Memasuki gerbang perumahan, dia di hadapkan dengan sampah yang lumayan banyak di pagar pembatas. Mengabaikan itu semua, Alrix terus maju dengan langkah hati-hati, dia memperhatikan setiap pintu rumah yang rata-rata tertutup itu. Lalu telinganya menangkap suara dari rumah yang di dinding dekat pintunya tertulis nomor dua belas.
"Aku suka rumah ini, nyaman. Boleh saya menempatinya, Bu?" Suara gadis yang amat familiar di telinganya terdengar.
Chapitres populaires