Suami Anak Mami
gumamku senang.
Aku mulai berpikir untuk terus berdamai dengan ibu mertua dan menyenangkan hatinya meskipun kadang bertolak belakang dengan gejolak hatiku. Tak peduli ibu selalu berkata pedas padaku, menganggapku musuh atau saingan, mengambil sesuka hatinya hadiah Mas Reihan untukku, bahkan uang belanja yang ia ambil dari tanganku, aku akan terus tersenyum pada ibu asalkan Mas Reihan bersikap manis seperti ini padaku.
"Kamulah sumber bahagiaku, mas! Tak peduli ibu menyakitiku sedalam apa, lukaku sembuh saat kamu memperlakukanku semanis ini...."