KEMBALINYA SANG RATU
Dalam keheningan itu, Lintang terhanyut dalam renungan mendalam, mengingat kembali setiap bait puisi yang diwariskan lewat naskah-naskah kuno—setiap kata, setiap garis, adalah warisan suci yang telah lama mengalir dalam darah Buton.
Ketika malam menjelang dan langit dipenuhi bintang, Lintang mendekati Baruga tua, tempat para pemangku adat berkumpul dalam kesendirian yang khusyuk. Di ruangan yang dipenuhi aroma dupa dan kayu tua, para tetua duduk bersila sambil membacakan naskah-naskah kabanti yang telah mengajarkan nilai kehidupan, kejujuran, dan cinta kepada alam. Di hadapannya terbentang Kabanti Kangkilo Matakiri, naskah yang ditulis dengan tinta hitam di atas kulit kayu, menyimpan mantra-