Berikut adalah 84 novel terkait lampauuntuk Anda baca online. Umumnya, lampau atau novel yang serupa dapat ditemukan dalam berbagai genre buku sepertiYoung Adult, Historical and Horor. Mulailah membaca dari I Saed Lupyu di GoodNovel!
Ternyata di sini juga tempatnya timezone terbesar se-Asia Tenggara.
Benar-benar hebat!
“Jangan meleng,” ucap Sae sambil menarik tanganku.
Aku berhenti, menoleh ke arahnya, kemudian menutup layar ponsel. Ketika kualihkan pandangan dari benda putih di genggamanku, ternyata kami sudah sampai di depan sebuah toko sepatu. Sebuah ruangan mewah yang didominasi warna oren itu bertuliskan nama tempat, “Payless”.
Akal sehatnya mulai berperang dengan kesimpulan teraneh yang ia pikirkan.
"Kau... yang berbicara padaku?"
"Uhm. Aku lumba-lumba yang menolongmu."
Akal sehat Zahra tertampar jawaban hewan mamalia laut berwarna abu-abu cerah tidak berbentuk wujud manusia jadi-jadian apalagi robot buatan. Lumba-lumba baik hati membawa Zahra ke pesisir pantai. Lembayung pohon kelapa mulai melambai mengajak mereka mendekat. Namun sayang, lumba-lumba itu bukan siluman hewan yang mampu berubah wujud demi menemani perjalanan Zahra.
"Mana, sini, gue liat. Namanya siapa?"
"Revan siapa, gitu," balas Kaisar, menghadapkan layar laptopnya pada sang kawan.
"Bang Revan," cetus Zaki, manggut-manggut. "Kenal, sih, gue. Mau ID Line apa nomor WhatsApp?"
"Eh, gila, dia masih pake Line?"
"Ya, udah, sih. Hak orang."
"Gue aja udah nggak pake Line sejak semester empat, anjir!"
Hah, hah, hah,
“Demit gobl*g, nyieun aing sieun wae! (Demit gobl*k, bikin aku ketakutan saja!)”
“Sigana mah aing kudu ngadagoan kabut beureum leungit heula, terus bawa si Abdi ka tempat anu osok di pake ritual, meh kampung ieu bisa normal deui. (Sepertinya aku harus menunggu kabut merah hilang terlebih dahulu, terus bawa si Abdi ke tempat yang sering dipakai ritual, biar kampung ini bisa normal lagi.)”
jangan lupa baca karya terbaru saya ya
SEHARUSNYA KAU IKUT MATI ekslusif di Goodnovel
baca juga karya saya yang lain
WARUNG TENGAH MALAM (tamat)
KUTUKAN LELUHUR (tamat)
KAMPUNG HALIMUN (tamat)
support terus ya, Terima kasih
Joy Julia
Sepertinya mending selesaikan Warung Tengah Malam dulu Thor, sudah terlanjur seru, biar bs fokus satu per satu dulu. Kampung Halimun seru jg, tp blm panas. Bakal geregetan kalau disana masih bersambung, disini bersambung
ucap Varo lirih.
“Bukannya, rumah kamu lebih mewah, lebih besar dan megah? Aku tahu Papi kamu pekerja keras, jadi pasti hunian kamu lebih nyaman.” Meera kemudian membuka pagar rumahnya dan mempersilakan Varo masuk.
“Assalamu’alaikum,” sapa Meera sambil mengetuk pintu dengan dua daun pintu berwarna cokelat tua tersebut.
“Wa’alaikumsalam,” jawab seorang wanita dari dalam rumah.
Redrick menunjuk pemandangan di depan mereka.
Sengaja Redrick sudah memasang beberapa lampu, hingga suasana tak terlalu gelap. Suara air yang mengalir menjadi salah satu hal yang bisa didengar. Tak ada suara manusia atau mesin. Damai dan menenangkan.
Liara menatap lurus. Siapa yang tidak suka? Ia bahkan sudah terksima dengan jalanan setapak yang mereka lewati tadi. Di kiri dan kanan terdapat tumbuhan bambu yang subur.
Giliran Lana mendekat.
Lana menyapa dan mengulurkan tangan pada Caleb. Laki-laki plontos itu menjabat tangan Lana sembari menyebutkan namanya.
"Halo, saya Caleb," ujarnya.
"Saya Lana, Mas Caleb. Saya baru pertama ke Nirvana," terang Lana.
"Ah iya, pantesan kayak belum pernah lihat," ujar Caleb ramah. "Ada yang bisa saya bantu, Kak Lana?"
sapa wanita dari seberang sana.
“Iya, terima kasih. Kalau boleh tahu, Mbak mau bahas apa mengenai tulisan saya?”
“Salam kenal Mbak, nama saya Chika. Saya asli Palembang, mbaknya juga pernah tinggal di Palembang, ya?”
“Iya Mbak, saya cukup lama di sana. Ada sekitar enam tahun saya di sana, kuliah dan juga bekerja.”
103.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 89 kali sebagai lampau