Dikira Melarat Usai Bercerai
Lebih mengkilap dari gigikulah pastinya.
Siska naik membonceng di belakang. Pelukannya erat, seerat cintaku padanya. Tangannya yang lentik dan berkuku panjang itu mencengkeram perutku. Rasanya gelisah. Geli-geli basah. Maklum, ini ences nggak bisa dikendalikan. Kira-kira ada obatnya nggak sih, kalau mulut suka ngences tanpa disadari? Apa perlu ke dokter saraf, ya? Ah, tapi nggak mungkinlah. Masa cowok ganteng berdompet tebal kaya aku bisa sarafan?
“Mas, aku maunya kita sarapan bakso. Abis itu belanja ke minimarket, ya? Aku mau beli bedak, pembersih muka, sabun mandi, sikat dan pasta gigi, terus sama obat kumur.”
Capítulos Populares