PERJAKA NEXT LEVEL
Ia tak lagi punya tenaga untuk marah.
“Bagaimana, sudah tenang?” Suara pria itu lembut, terlalu lembut untuk ukuran manusia biasa. Nobu mengangguk pelan. Ia kini duduk di ruang flat pria itu — interiornya modern, tapi dingin. Tak ada bingkai foto, tak ada tanda kehidupan selain aroma samar cendana.
“Terima kasih, Pak. Kalau tidak ada Anda, saya—”