Selubung Memori
“Kau sudah tenang?”
“Hm,” kata Lavi.
“Biar kujelaskan, jadi tenanglah. Sudah malam. Tidak bisa berisik.”
“Hm, ya.”
Kelihatannya dia serius, jadi aku melepasnya. Dia berangsur bangkit. Aku sudah bersiap dia akan menonjok pipiku atau apalah, tetapi dari semua yang bisa dia lakukan, Lavi menetap di dadaku, berbalik menghadap Haswin dan Yasha, lalu menyandar begitu saja. Aku menahan napas, menemukan sorot Haswin dan Yasha penuh ancaman. Aku menggerakkan mulut tanpa suara kalau ini di luar semua yang kupikirkan dan Haswin sudah bersiap dengan bantal.
Hot Chapters