Diblokir Tetangga
"Ya, harus dipangkas jarak itu. Kita yang mendekat. Membaur. Kalau perlu berbasa-basi menanyakan kabar. Jangan sampai silaturahmi terputus."
Aku mengangguk paham. "Jadi, jangan diam aja, ya?" tanyaku lagi.
"Nggih, leres, Dek. Kalau mereka membuat jarak, terus kita diam saja. Ya, apa bedanya? Nggak akan ada perubahan. Justru semakin jauh jadinya."
"Oh, begitu. Kudu agresif hehe." Aku tertawa.
Mas Fatih tersenyum. "Udah malem, masuk yuk, dingin," katanya.
Hot Chapters