Dinodai adiknya, dinikahi kakaknya
“Aku mungkin lemah sekarang, tapi pikiranku tetap waras. Aku tidak akan pernah memilihmu. Tidak sekarang, tidak besok, tidak selamanya.”
Hening sejenak. Kata-kata itu menggema dalam kepala Bagas, menggaung, berulang-ulang. Rahangnya mengeras. Matanya panas, berkaca-kaca, namun bukan oleh kesedihan—melainkan luapan emosi yang campur aduk: marah, kecewa, terluka, dan terjerat obsesi.
“Kalau kamu tidak bisa memilih aku dengan hatimu,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah, nyaris berbisik namun penuh ancaman, “maka aku akan buat kamu tidak punya pilihan lain.”
Bab Populer