Agnia dan Cermin Pecah
Aku sudah terlalu lelah untuk bersandiwara.
Ibu Kost menghela napas panjang. Tangan keriputnya meremas ujung celemek batik yang telah pudar. Pandangannya menghindar, tertuju pada pagar besi berkarat di depan.
“Ah, tidak ada apa-apa, Mas. Hanya... begini,” gumamnya, serasa enggan. “Kemarin malam, di daerah sini ada kabar. Sebuah kost di belakang pasar, dekat rel kereta, kecolongan. Konon, dompet dan laptop menghilang begitu saja. Padahal penghuninya hanya pergi ke kamar mandi sebentar.”
Hot Chapters