Bayang Pedang Cahaya Bulan
Namun, di tempat seharusnya bulan bertakhta, hanya ada kegelapan bulat yang sempurna, seperti mata buta yang masih menatap ke bawah, seperti sesuatu yang menunggu, seperti sesuatu yang tidak sabar.
Duan Wuya berdiri di puncak tebing barat. Jubah hitamnya tidak bergerak meski angin lembah bertiup kencang, seakan angin itu sendiri menolak menyentuhnya, seakan angin tahu bahwa pria ini bukan bagian dari dunia biasa, bahwa ia adalah sesuatu yang lebih tua daripada batu di bawah kakinya, sesuatu yang lebih dingin daripada angin yang berputar di jurang.