Kau Adalah Obatku
Gatal, di hatiku gatal, bahkan di sana lebih gatal.
Aku mendorongnya menjauh, namun jauh di lubuk hatiku, aku menginginkannya.
Tanpa sadar aku menggenggam erat kemeja Dimas sambil terengah-engah.
"Mmm... Kak Dimas..." Desahan mulai terdengar dari mulutku, yang terdengar begitu asing bagiku.
Hatiku semakin menderita. Aku ingin dia masuk lebih dalam, namun aku bimbang dan ingin menolak.