Dalam Diam Ia Mengikatku
Tapi yang ia temukan hanya keputusan.
“Oke,” katanya akhirnya.
Tidak ada senyum besar. Tidak ada momen dramatis. Hanya kesepakatan yang terasa lebih nyata dari apa pun.
Malam itu tidak benar-benar memberi mereka waktu untuk beristirahat. Lampu tetap menyala, laptop terbuka, layar ponsel terus hidup dan mati karena notifikasi yang tidak berhenti. Ronghuā duduk di sofa, tubuhnya sedikit condong ke depan, siku bertumpu di lutut, jari-jarinya saling terkait. Di layar laptop, potongan audio itu diputar berulang. Suaranya sendiri terdengar asing—lebih datar, lebih dingin, terpotong di bagian yang paling krusial. “…kalau ini gagal, kita gak punya pilihan lain…” Setiap kali kalimat itu berakhir, ada
Hot Chapters