Gila Karena Penyesalan
Beberapa tahun kemudian, Ayah meninggal pada malam bersalju, dengan mata yang terbuka sempurna.
Setelah pemakamannya, kewarasan Ibu benar-benar runtuh.
Dia duduk sendirian di dekat jendela, bicara dengan udara kosong. Kadang tertawa, kadang menangis.
“Sevy, Ibu buatkan semur daging kesukaanmu.”
“Sevy, pulanglah. Ibu salah, Ibu nggak akan pilih kasih lagi.”
Dia hidup dalam halusinasi penyesalan yang berulang-ulang. Tapi aku tak mungkin mendengarnya lagi.