Jodoh yang Tertunda
Setelah mengeluarkan dua lembar jilbab itu, mata ibu melebar.
“Num, kamu belanja? Dapat uang dari mana, Num? Pasti mahal ya, Num? Soalnya, ini bagus sekali.” Ibu membelai-belai jilbab itu dengan jemarinya yang kurus.
“Nggak mahal kok, Bu. Asalkan Ibu suka, Shanum senang.”
Tiba-tiba saja, tubuhnya yang ringkih sudah memelukku. “Makasih, Num ... Ibu suka,” bisikknya diserai isakan.
Tak kuasa menahan, air mataku pun tumpah.
***
Bab Populer