BATARI
lirih Batari, melengkungkan punggungnya saat rasa panas menjalar dari dadanya.
Namun, Victor seolah tuli. Ia justru memuja setiap lekuk tubuh Batari dengan kegilaan yang hampir religius. Di mata Victor, Batari bukan lagi sekadar wanita; dia adalah dewa, candu, dan satu-satunya alasan mengapa jantungnya masih berdetak. Kini lidah dan bibirnya mulai bergerak turun, menyusuri area sensitif Batari, seolah tak ingin ada satu milimeter pun yang lolos dari sentuhan dan basahan lidahnya. Kulit perut Batari berkedut, mengencang setiap kali embusan napas Victor menerpa permukaannya.
Hot Chapters