Jembatan Perselingkuhan Suami dan Sahabatku
“Buat apa, sih? Mending Abang pulang urus mamak di rumah. Tolong, minta dia jangan usik aku lagi. Anaknya yang berulah aku yang harus tanggung akibat.”
“Abang minta maaf soal mamak. Tapi, Dek, kita belum makan, belum selesai bicara. Kamu juga tidak mau kuantar,” protesnya dengan suara dalam.
Bang Fuad seperti sedang melemparkan semua dosanya padaku. Dia berkata seolah aku yang bersikap buru, yang berkhianat, berdusta serta berselingkuh.