Salah satu hal yang bikin aku terus kembali ke karya-karya Dee Lestari adalah cara dia meramu spiritualitas tanpa memaksa satu dogma ke pembaca — terasa seperti obrolan panjang di sebuah kafe, bukan khotbah.
Dalam membaca 'Supernova' atau kumpulan cerita di 'Rectoverso', aku sering mencatat pola berulang: perpaduan antara logika dan metafisika, simbol-simbol alam (bintang, air, gelombang), serta karakter yang sedang melewati proses pencarian diri. Cara paling praktis yang aku pakai adalah membaca dengan pena di tangan. Setiap kali ada kalimat yang terasa “nyantol” — entah itu dialog pendek yang penuh makna atau metafora puitis — aku tandai. Setelah beberapa bab, aku kumpulkan catatan itu dan lihat tema apa yang muncul berulang. Biasanya muncul kata-kata tentang keterhubungan, keterbukaan terhadap misteri, dan nilai estetika sebagai jalan spiritual.
Pendekatan lain yang sering aku lakukan adalah membedah karakter bukan semata sebagai protagonis cerita, tapi sebagai cermin fase spiritual: ada yang mengalami krisis iman, ada yang menemukan kedamaian lewat seni atau cinta, ada pula yang berhadapan dengan sains hingga akhirnya mengakui ketidaktahuan sebagai pintu masuk pengalaman transenden. Dee sering menempatkan referensi ilmiah, filsafat, dan budaya pop berdampingan dengan pengalaman mistik — itu bukan kontradiksi, melainkan strategi naratif supaya pembaca bisa melihat spiritualitas sebagai sesuatu yang hidup dan relevan. Jadi, selain menandai, aku suka menulis paragraf kecil tentang bagaimana pengalaman tokoh itu mirip atau berbeda dengan pengalaman hidupku: ini membantu memahami nuansa spiritual yang ingin disampaikan.
Terakhir, aku merekomendasikan membaca sambil berdiskusi. Aku pernah ikut forum online dan obrolan sederhana membuka sudut pandang baru — misalnya melihat motif air bukan sekadar simbol pembersihan tapi juga lambang waktu dan memori. Baca ulang juga penting; banyak kalimat Dee yang kaya lapisan sehingga makna baru muncul di pembacaan kedua atau ketiga. Intinya, hadapi karya-karyanya dengan rasa ingin tahu, catatan, dan sedikit keberanian untuk menerima kebingungan: di situ biasanya letak pencerahan kecil yang membuat pengalaman membaca terasa personal dan menenangkan.