Ternyata Bosku Mantanku
Letak kafe yang mereka tuju kebetulan dekat dengan apartemen, membuat mereka hanya berjalan kaki sebentar, tanpa harus membawa mobil.
Tiba di kafe, Bintang merasakan kehangatan. Aroma kopi segar dengan suara mesin espresso yang berdesis ritmis. Jendela lebar memberi pandangan jelas ke luar, menyajikan pemandangan salju yang terus turun di luar, melengkapi kenyamanan ruangan. Dia dan Bara duduk berseberangan, memandang secangkir cokelat panas dengan whipped cream dan kopi latte berbusa, saling bertukar cerita dan tawa.
Bara mengambil genggaman tangan Bintang dan berkata dengan nada hangat, dan lembut. “Dulu aku ke sini selalu sendiri. Aku senang sekarang datang ke kafe langgananku sama kamu.”
Hot Chapters