Lusia
Tak terasa matahari sudah membumbung tinggi, meski sinarnya tidak bisa membuat sirna kabut di Rose Hill, sepertinya Tuhan telah memutuskan kalau kabut di Rose hill akan seterusnya seperti ini, abadi.
“Kemana yang lain Emma?” tanya Lusia sembari menyerahkan gelas limun yang sudah kosong.
Emma melirik ke belakang, para pelayan yang lain tengah sibuk menyiapkan makan siang yang di perintahkah Mason.
“Mereka sibuk memasak Nona,” jawab Emma seperlunya.
Lusia perlahan bangkit, ia melupakan keluh kesahnya tentang kelelahanya barusan.
Hot Chapters