Rimba Memburu Senala
Nari datang sambil membawa secarik kulit kayu, di atasnya tergurat tulisan batu dari Balia, penenung tua Akarlangit:
“Yang datang dari kabut, akan lenyap dalam akar.
Tapi yang menatap matahari gelap, akan tahu jalan pulang.”
Tani membaca kalimat itu pelan. “Apa maksudnya?”
“Kita harus pergi ke pusat Tilangkar. Ke celah Matahari Gelap. Mungkin di sanalah semua ini bermula.”
---
Perjalanan menuju celah itu bukan hanya soal melawan cuaca. Mereka harus menyeberangi tanah pecah, melewati jembatan akar mati, dan menghindari patahan kabut yang bisa menyesatkan arah. Sepanjang jalan, mereka menemukan bekas perkemahan lama—tanda bahwa dahulu, ada yang pernah mencoba, tapi tak pernah kembali.
Hot Chapters