Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Ayahku Berkhianat, Kubawa Pergi Ibuku

Ayahku Berkhianat, Kubawa Pergi Ibuku

Peter melakukan itu untuk berhati-hati sekaligus menghindari sabotase dari pihak luar. “Bahan yang digunakan pada panah ini berasal dari wilayah utara. Kayu khusus yang kuat dan tak mudah patah ini hanya diproduksi di wilayah sana. Yang lebih mengejutkannya panah ini juga serupa dengan prajurit milik kediaman Earnest.” Peter terdiam mendengar penjelasan Matthew yang sangat mengejtutkan itu. Jantungnya berdebar memikirkan jawaban yang telah ada dalam otaknya. “Sangat mengerikan jika itu benar terjadi,” gumam Peter.
103.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 139 kali sebagai mata panah
Baca
+Pustaka
Pendekar Kera Sakti

Pendekar Kera Sakti

Jleeg. Mata Baraka segera memandang ke arah datangnya anak panah. Kerimbunan dedaunan pohon sukun menjadi pusat perhatian Pendekar Kera Sakti, ia yakin ada seseorang di atas pohon sukun yang berdaun lebar dan rimbun itu. Maka, ia pun segera melemparkan anak panah itu ke batang pohon. Wuuttt...! Duaaarrr...!
1031.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 838 kali sebagai mata panah
Baca
+Pustaka
Menukar Takdir Istri Sang Adipati

Menukar Takdir Istri Sang Adipati

"Anak panah ini memiliki mata yang berlawanan arah. Jika aku menariknya paksa dari belakang, dagingmu akan terkoyak hancur. Aku harus mendorongnya hingga tembus ke depan, baru kemudian mematahkan mata panahnya." ​"Lakukan saja!" bentak Fan Yi dengan sisa tenaganya, keringat dingin sebesar biji jagung membanjiri dahinya. ​Krak! ​"Aaaakhhh!!" Teriakan memilukan Fan Yi meledak, memecah kesunyian markas.
1020.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 489 kali sebagai mata panah
Baca
+Pustaka
AMBISI BISAWARNA

AMBISI BISAWARNA

Jebret! Satu anak panah melesat kencang dari busurnya. Tiupan angin pantai tidak dapat membelokkan anak panah itu dari lajunya. Anak panah terus melaju. Mendekati burung camar yang tengah, anak panah itu tidak kunjung membelah menjadi tiga seperti yang diinginkan. Anak panah itu tetap utuh satu. Raut wajah Bisawarna tampak tidak senang. Panah yang dilepaskan tidak sesuai keinginan.
102.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 57 kali sebagai mata panah
Baca
+Pustaka
Koma

Koma

Sebuah benda tipis terjatuh dari sela-sela lipatan sapu tangan tersebut, Rimba memungutnya dari lantai. Bola mata Rimba melebar tak percaya mendapati sobekan kertas kecil dengan tulisan awut-awuttan, tapi untung masih bisa dibaca. Rimba membaca sekali lagi secara perlahan, menajamkan penglihatanya. Namun tulisan itu masih tetap sama. Temui gue di atap besok. ========================== ============== Salam hangat dari perempuan yang hobi gantungin
102.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 92 kali sebagai mata panah
Baca
+Pustaka
Mati Untuk Hidup

Mati Untuk Hidup

Dia juga melemparkan tangan Satria yang diletakkan di punggungnya, dengan mata merah dan basah penuh kebencian. Tetapi, anakku, bukankah kamu paling benci jika aku ikut campur dalam hidupmu? Bukankah kamu selalu merasa aku seperti orang gila, dan berharap aku berada sejauh mungkin darimu? Kenapa kamu, yang begitu menginginkan kematianku, malah jadi begini setelah keinginan itu menjadi kenyataan? Mertuaku duduk di samping dengan rasa bersalah. "Aku juga nggak tahu, penyakit ini bisa membuatnya meninggal begitu saja ...."
7.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 190 kali sebagai mata panah
Baca
+Pustaka
Shen Xiao

Shen Xiao

Anak panah itu terjatuh bersamaan, apa yang dilakukan Si Mata Elang itu membuat kedua rekannya mengalihkan mata menatapnya. Si Mata Elang tak menatap mereka, matanya masih fokus ke depan di mana anak panahnya itu menjatuhkan beberapa anak panah kedua rekannya yang akan mengarah ke arah pemuda bertongkat bambu itu. Setelah apa yang dilakukan tadi, Si Mata Elang membuang napasnya perlahan-lahan. "Mereka gegabah sekali, apa mereka tidak menyadari ada sesuatu yang janggal?" Memutar matanya ke arah kedua rekannya. Pria itu memberikan tatapan dinginnya yang menekan mereka berdua.
106.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 124 kali sebagai mata panah
Baca
+Pustaka
Mata Elang

Mata Elang

gumam Anita yang baru saja tiba di pintu keluar dari Mall. Vanya salah masuk jalur, harusnya buat jalan mobil keluar justru dia berjalan sebaliknya. Mercedes putih itu berhenti tepat di depan Anita, sedangkan arah sebaliknya mobil sedan merah kaget ketika pengemudi itu belok lupa tidak injak rem. Akhirnya sedan merah menabrak mobil Vanya yang menimbulkan suara benturan yang cukup keras. “Goblok sekali!!! Apa dia tidak punya mata?? Padahal jelas ada papan petunjuk di depan untuk jalur keluar!!! Tidak bisa dibiarkan ini!!” geram Arka.
108.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 319 kali sebagai mata panah
Baca
+Pustaka
Mata Ketiga

Mata Ketiga

Sementara itu, Pak Kromo yang juga tidak melihat apa-apa, ikut ke halaman rumah menuju ayah Lydia. “Ada apa pak? Kenapa anak saya ketakutan seperti itu??” tanya ayah Lydia. “Kata anakmu, di atas bapak itu ada bayangan makhluk bermata merah .....” jawab Pak Kromo. Keduanya kompak mendongak ke atas. Tidak terlihat apa-apa di atas mereka. Hanya batang, ranting, dan daun mangga yang tertiup angin kecil. Namun, keanehan segara terasa. Ayah Lydia dan Pak Kromo merasakan angin yang berhembus terasa hangat dan semakin kencang.
2.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 78 kali sebagai mata panah
Baca
+Pustaka
Iveryne ; Mitos Pedang Iblis

Iveryne ; Mitos Pedang Iblis

Matanya terdiri dari tiga baris. Baris pertamanya memiliki empat mata kecil, baris kedua kedua terdiri dari dua mata yang lebih besar, lalu baris ketiganya memiliki ukuran sedang. Dua bagian tengah wajah adalah yang paling jelas dan terlihat lebih besar dari enam mata lain. Ketika mereka berhadapan dengan laba-laba untuk terakhir kali yang mengakibatkan mereka terlempar dalam Gua ini, Iveryne tidak terlalu memperhatikan struktur tubuhnya.
2.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 77 kali sebagai mata panah
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status