Pesugihan Kandang Bubrah
Ndraa Archeraku benci ayahmaafkan ibu anakku
“Sumbernya? Maksudmu… pria tua itu?”
Pria tua itu menyeringai. “Kalian pikir semudah itu?”
Dan saat itu juga, tubuhnya mulai berubah.
Pakaian lusuhnya melayang di udara, kulitnya menegang hingga retak, memperlihatkan urat-urat hitam yang tampak seperti akar pohon tua. Matanya semakin merah, penuh kebencian yang dalam.
“Aku bukan sekadar manusia biasa lagi.”