Aku Masih Perawan
Lengannya bekerja, memerik daun yang layu, menyentuh bunga mawar berwarna merah darah itu.
Tidak terasa jika kini yang Ia pegang bukan lagi bunga yang indah. Namun berganti dengan duri yang menyakitkan. Duri yang dapat menyentuh kulitnya, dan merusak pembuluh darah.
Darah segar menetes pada jemarinya. Clara tidak menyadari itu. Hanya beberapa pelayan yang meringis ngilu sembari beberapa kali memberi tahunya.
Namun suara peringatan itu hanya berjalan melewatinya. Bagaikan angin yang menerpa. Clara tidak menghiraukan itu hingga lengan seseorang meraih telapak tangannya.