Menantu yang Sengaja Dibuang
"Mutia, menurutku ... kamu tidak salah, semua yang kamu lakukan itu tidak ada salahnya. Ada rasa ingin memaafkan itu saja sudah mulia, coba saja jika orang lain yang ada di posisimu, belum tentu dia akan melakukan hal serupa. Kamu bisa diam, tidak berontak dan terus sabar sedari dulu. Jika sesekali kamu beri mereka syok mental, menurutku tidak tidak menjadi masalah."
Tiba-tiba air mata ini jatuh, sesak sekali bak ada dua batu besar tengah menghimpit gumpalan hati.
"Semoga kamu diberikan kesabaran, dan semoga apa yang kamu inginkan bisa terkabul."
"Aamiin."
Beberapa menit, berlalu dengan keheningan. Kuusap bekas air mata yang mengalis di pipi. Kutarik napas pelan, kukeluarkan.
Hot Chapters