Janda Cantik, Ibu Kosku
Bukan karena kayunya, tapi karena ia menjadi saksi keberanian Bima untuk mengakui kesalahannya.
Sore itu setelah pekerjaan selesai, kami duduk di teras menikmati teh hangat. Bima duduk di sebelahku, menatap meja yang sudah diperbaiki itu dengan senyum damai.
“Kakek… tadi saya kira mengaku itu hal yang paling menakutkan sedunia,” ucapnya pelan. “Ternyata setelah saya mengaku, rasanya jauh lebih lega dan lebih bahagia daripada saat saya menyembunyikannya. Dan ternyata Ayah, Ibu, Kakek, Nenek tidak membenci saya justru karena saya jujur.”
Hot Chapters