MADU YANG BERACUN
seperti orang lain.
Tak berapa lama, lelaki itu kembali memandang lurus ke depan dan berbicara dengan nada datar dan mencekam.
“Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada otakmu,” ucapnya santai, tetapi menahan amarah di dalamnya. “Caramu kemarin sungguh tak beretika. Kau pergi begitu saja, tanpa pamit pada siapapun, padahal kau datang karena diundang dengan hormat,” lanjutnya masih dengan nada yang sama.