Bayang Pedang Cahaya Bulan
Seperti melihat wajah seorang pemimpin, untuk sesaat, kembali menjadi wajah manusia biasa.
Perempuan itu melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu berlutut. Bukan berlutut hormat biasa, melainkan berlutut dengan kedua lutut menyentuh lantai batu, punggung tegak lurus, tangan terlipat di atas paha, kepala tertunduk pada sudut yang hanya dipakai seseorang ketika berhadapan dengan gurunya sendiri.
"Shifu." Satu kata saja yang keluar dari bibirnya, tetapi beratnya cukup untuk memenuhi seluruh ruangan.