Luka di Ujung Senja
“Aku… aku cuma butuh itu.”
Anggi mengembuskan napas panjang, nyaris terdengar seperti keluhan yang terpendam selama bertahun-tahun. Ia menunduk, memandang lantai yang licin dan memantulkan bayangan mereka. Bayangan dua perempuan yang sama-sama hancur, sama-sama kehilangan arah, tapi masih bertahan.
“Aku…” Anggi menelan ludah. Kata-kata seperti tersangkut di tenggorokan. “Aku nggak bisa ikut campur terlalu dalam, Cla.”