Menggenggam Awan
Gian mengangguk, mulutnya kali ini penuh dengan mie ayam yang baru ia seruput.
“Wu, kalau menurut aku ya, mending kamu jangan terlalu percaya deh dengan Gian. Anak ini kan matanya minus, bisa aja kan nyebar ke otaknya juga, ikut-ikutan minus deh otaknya.” Umara memberi pendapat dengan suara pelan.
“Hm, iya, Wu. Mungkin gue yang salah lihat.” Gian menganggukkan kepalanya.
Wuri masih diam, menatap kosong makanan yang tersaji. Umara menyikut Gian yang belum berhenti menikmati sajian, tanpa memperhatikan wajah galau sahabatnya.
Hot Chapters